Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Desember 2014

The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)

 
Sutradara : Peter Jackson |
Produser : Peter Jackson, Fran Walsh, Caroline Guningham |
Writer : Peter Jackson, Fran Walsh, Guillermo del Toro, Philippa Boyens  |
Fran Walsh, Guillermo del Toro, Philippa Boyens
Durasi : 144 min

Sebenarnya sedikit ragu, -lebih tepatnya bingung akan menulis review ini darimana. The Hobbit merupakan film trilogi adapted dari sebuah novel dengan judul yang sama, yang ditulis oleh J.R.R Tolkien. Novel The Hobbit memiliki 320 halaman untuk versi English, dan 340 untuk terjemahan Bahasa Indonesia. 320 lembar yang coba diterjemahkan oleh Peter Jackson menjadi film yang ia pecah menjadi tiga bagian, review ini akan menceritakan The Hobbit: The Battle of the Five Armies. Merupakan prekuel dari The Lord of The Ring (TLoTR).


Kedatangan Bilbo Baggins (Martin Freeman) beserta 13 kurcaci yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) menyebabkan Smaug (Benedict Cumberbatch) yang kala itu sudah menduduki Gunung Erebor marah dan menghancurkan sebuah kota dekat danau menggunakan kekuatannya. Namun ternyata seorang pria bernama Bard (Lukas Evans) berhasil menemukan kelemahan Smaug dan kemudian mengalahkan naga tersebut untuk menjadi pahlawan kotanya. Brad lebih tertarik untuk bersama-sama mengamankan tempat penampungan serta negoisasi yang telah mereka buat dengan Thorin terkait harta di didalam gunung tadi, daripada harus menjadi pemimpin negerinya.

Namun, Thorin tidak menepati janjinya, ia tidak mau membagi harta dan emasnya sesuai perjanjian yang telah ia buat dengan Brad. Hal ini menjadikan Bilbo dan kurcaci lain merasa perlu melakukan sesuatu terhadap situasi tersebut. Kondisi semakin rumit dengan kehadiran kaum elf dibawah pimpinan Thranduil (Lee Pace) yang juga menginginkan harta didalam Gunung Erebor, dan telah membentuk aliansi. Begitupula dengan keberadaan Orc di bawah komando Azog (Manu Bennett) yang berniat mengejar Thorin untuk membalaskan dendam, begitupula dengan Legolas (Orlando Bloom) dan Tauriel (Evangeline Lilly) yang mengetahui bahwa ada tentara kegelapan lain yang siap untuk menyerang.

Jika harus menggambarkan apa yang menarik dari film ini mungkin jawabannya adalah bagian pembuka yang memberikan kita kenikmatan yang terbilang cukup baik untuk klik dengan karakter dan juga masalah, dan bagian penutup yang punya kekuatan cukup besar untuk memuaskan mereka yang telah menyaksikan The Lord of the Rings karena berhasil menciptakan sebuah jembatan menuju The Fellowship of the Ring. Bagaimana dengan sisanya? semua dibungkus dengan alur cerita yang liar namun dalam struktur yang kurang nikmat. Karakter Bilbo Bagins pun terlihat tidak terlalu heroic, dimana sepanjang hampir peperangan terjadi ia hanya tertidur (alias pingsan). Namun aksinya memiliki pesan moral yang tinggi di awal cerita, ia mencuri jantung kekayaan milik Thor, demi tidak terjadinya peperangan dan tegaknya keadilan sesuai perjanjian yang telah ditetapkan.

Pada film ini terdapat begitu banyaknya gimmick yang Peter Jackson coba bentuk untuk menyokong dan memperpanjang cerita. Untuk animasi, sentuhan yang ia ciptakan pada sisi visual cukup apresiative, tetapi ada beberapa bagian yang terlihat terlalu dibuat-buat. Seperti saat Legolas bertarung melawan pasukan Azog di tebing yang perlahan runtuh. Tidak ada yang mengejutkan dari visual, efek visual yang kita dapatkan tetap bagus, tetapi hanya memenuhi standard rata-rata apa yang kita dapatkan dari seorang Peter Jackson, namun yang menjadi masalah adalah ketika ia tampak murni mengandalkan visual tadi untuk menyelesaikan ambisinya agar The Hobbit seri ketiga ini dapat diselesaikan dengan khusnul khotimah.

Hal tersebut yang menjadi faktor utama rasa kecewa pada film ini. Tidak ada yang mengejutkan dari visual, apa yang kita dapatkan sudah berada di level yang sama dari seorang Peter Jackson, namun yang menjadi masalah adalah ketika ia tampak murni mengandalkan visual tadi untuk menyelesaikan ambisinya ini. Harapan pada The Hobbit tentu saja tidak sama dengan harapan pada Transformers, visual memukau dengan cerita yang macet total dari segi daya tarik, kita ingin The Hobbit menyajikan urutan yang bukan hanya menarik tapi juga dilengkapi kemampuan untuk memberikan kita sesuatu yang imajinatif untuk di konsumsi, karakterisasi yang mumpuni bahkan memiliki kualitas emosi yang menarik. Film ini kesulitan pada bagian tersebut, eksposisi dengan materi terbatas dan kemudian berputar-putar mencoba menciptakan kesibukan yang sayangnya menggerus daya tarik, ketegangan, hingga antusiasme penonton.

Overall, The Hobbit: The Battle of the Five Armies adalah film yang cukup memuaskan. Namun seperti overcook saat disajikan dilayar bioskop. Sebagai film dari novel fantasi, The Hobbit terlalu datar pesona nya. Komposisi yang akan dengan mudahnya menjadikan kenikmatan visual dan adegan aksi yang ia berikan turun kelas dari awalnya luar biasa menjadi biasa, dan tidak lebih amazing dari yang diimajinasikan pembaca novelnya. 

Rating : 7/10

Senin, 24 November 2014

The Fault in Our Stars (Novel & Film)

Let me tell you a story abt this film, atau lebih tepatnya novel, atau dari versi novel hingga film. Ini merupakan buku John Green yang pertama kali aku baca tahun 2013 lalu. Selanjutnya ketagihan dengan karya-karya young adult lain miliknya, yang banyak dipuja-puji penikmat novel genre ini. Sedikit membahas tentang John Green, ciri khas dan thing(s) that make John Green so interest are, karyanya yang selalu disisipi dengan "bahasa matematika" ketika menghubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Namun terkadang pembaca tidak menyadari rahasia bahasa matematika yang invisible tersebut.

cover TFiOS dari novel hingga layar lebar

Back to TFiOS, sebelum kamu menonton film TFiOS you should read the novel (i dont really cry in movies), atau minimal membaca novelnya setelah kamu tertarik menonton filmnya, kenapa? Karena kalau dibaca dan dipahami dengan hati-hati, TFiOS ternyata jauh lebih kompleks daripada yang kita kira, baik kompleks isinya maupun kompleks efek sesudahnya. Dan aku sarankan lagi buat baca versi aslinya, bukan terjemahannya. Karena di versi terjemahan, banyak adegan yang dipotong --yang menurutku itu mengurangi the essential of the story. Lagipula, ada beberapa kata yang ketika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia jadi kuarng lucu dan nggak nyambung. Walau demikian, baik versi english maupun versi bahasa sama-sama worth it untuk dibaca kok.

Sutradara : Josh Boone |
Produser : Wyck Godfrey, Marty Bowen |
Writer : Scott Neustadter, Michel H. Weber |
Durasi : 126 min

the review :
It is a teen story, indeed. Dibuka oleh Hazel Grace (Shailene Woodley) dengan dialog di first chapter yang sudah bikin aku sedikit menangis "I didn't tell him that the diagnosis came three months after I got my first period. Like: Congratulations! You're a woman. Now die". (2.13). Ia didiagnosa mengidap kanker tyroid yang sudah mulai menyebar ke paru-parunya sehingga ia harus selalu memakai selang dan membawa tabung oksigen ke mana-mana. Awalnya ia tidak suka datang ke Support Group, di mana anak-anak pengidap kanker bertemu dan saling menguat. Tetapi di situlah ia bertemu Augustus Waters (Ansel Elgort), seorang mantan pemain baseball yang kehilangan sebelah kakinya akibat kanker tulang. Hazel mengenalkan buku kesayangannya yang telah dibacanya berkali-kali: An Imperial Affliction (AIA) karya Peter Van Houten (Willem Dafoe) kepada Augustus. AIA berakhir di tengah kalimat, nyaris seperti salah cetak. Hazel paham bahwa pasti itu terjadi sebagai gambaran bahwa tokoh utamanya, Anna yang juga pengidap kanker, telah meninggal, sehingga ceritanya berhenti sampai situ. Tetapi meskipun bukunya fiksi, Hazel sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada tokoh-tokoh lainnya, sehingga ia selalu bermimpi untuk bisa menanyai Peter Van Houten. 

Akibat diskusi asik dengan Gus (Augustus Waters) mengenai buku ini, keduanya saling tertarik dan jatuh cinta. (Akting Shailene Woodley dan Ansel Elgort sebagai sejoli disini sangat cocok, walaupun sempat beradaptasi dulu karena sebelumnya melihat keduanya beradu peran sebagai  Kakak-Adik pada film Divergent). Kalimat-kalimat romantisa yang dikeluarkan dua muda-mudi ini tidak terdengar gombal dan picisan. John Green berhasil membawa pembacanya meresapi dunia remaja yang sedang jatuh cinta namun kebetulan sedang sakit, bukan remaja yang sedang sakit namun kebetulan sedang jatuh cinta


Gus dan Hazel kemudian terbang ke Amsterdam untuk menemui van Houten, ternyata ketika sampai disana, keduanya justru menerima perilaku yang kasar dan tanggapan yang sangat mengecewakan dari penulis idolanya itu. Tetapi setelah diperhatikan, sikap van Houten ini berkaitan terhadap potongan adegan sesudahnya, yakni saat Gus mengaku bahwa ia mengalami kekambuhan sekaligus metastasis kankernya. Beberapa hari setelah kembalinya dari Amsterdam, Gus meninggal. (ini kejadian yang sangat tidak bisa ditebak --siapa sangka Gus akan meninggal lebih dulu). Namun sebelum kepergiannya, Augustus telah mempersiapkan eulogy, agar supaya setelah ia meninggal, Hazel tetap mendapatkan keinginannya. So sweet kan? Lebih bagusnya lagi, lewat eulogy itu kita akhirnya bisa paham mengapa Augustus menyukai Hazel. Dan mengapa Hazel bisa menyukai Augustus. 

Favorable quote :
"I tried to tell myself that it could be worse, that the world was not a wish-granting factory, that I was living with cancer not dying of it, that I mustn't let it kill me before it kills me"

“I spent your Wish on that doucheface,” I said into his chest.
“Hazel Grace. No. I will grant you that you did spend my one and only Wish, but you did not spend it on him. You spent it on us.”

"I didn't tell him that the diagnosis came three months after I got my first period. Like: Congratulations! You're a woman. Now die"

























Sabtu, 15 November 2014

Lucy (2014)


Sutradara : Luc Besson |
Produser : Christohe Lambert, Luc Besson |
Writer : Luc Besson
Genre : Action, Sci-Fi
Durasi : 90 min



Lagi-lagi, alasan menonton film ini karena bergenre science fiction. Lucy termasuk salah satu film yang You Should Watch, tidak hanya karena bergenre science fiction, namun juga karena akting si tokoh utama, Lucy,  yang diperankan oleh Scarlett Johansson dapat dinikmati dengan sangat mulus. Efek visualisasi yang mengagumkan dan improvisasi ide yang lumayan gila. Didukung oleh aktor kenamaan Morgan Freeman, film ini pun menjadi film yang cukup menjajikan kesuksesannya.


Scarlett Johansson memulai cerita sebagai seorang perempuan biasa yang lugu (dan terkesan tidak tahu apa-apa), kemudian ia diculik oleh sekawanan mafia untuk menyelundupkan obat-obatan terlarang berdosis tinggi, yaitu CPH4. Di lain cerita, profesor Norman (Morgan Freeman) yang merupakan ilmuwan, sedang melakukan riset mengenai kemampuan otak manusia. Para mafia yang menggunakan tubuh Lucy sebagai media penelundupan obat, terkejut ketika mengetahui obat yang ditaman ditubuh Lucy ternyata bocor dan bereaksi dengan sistem DNA nya. Seketika itu, Lucy merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan manusia pada umumnya. Ia dapat mengingat memori memori terkecil disetiap kehidupannya. (pada scene inilah Scarlett Johansson terlihat sangat pintar dan mencengangkan). Kemudian, Lucy meminta bantuan kprofesor Norman untuk mengatasi 'masalah'nya.

Seperti halnya film bergenre sci fi lainnya, Lucy bukansekedar cerita biasa tentang kriminal dan balas dendam. Film ini menawarkan beberapa hal untuk dipikirkan. Pengetahuan yang disampaikan profesor Norman saat mengajar diperkuliahan, mempunyai filosofi dan pengetahuan yang dibagi tanpa membuat bosan para penonton. Mungkin banyak yang tidak puas dengan endingnya (saat keluar dari gedung bioskop, orang-orang dibelakangku pada ngomong 'film apanih kok geje ternyata' 'aku nggak paham, kok endingnya gini sih') namun hal itu yang paling masuk akal untuk mengakhiri cerita. Film ini tidak hanya melibatkan deretan cast berbakat, namun juga menawarkan sesuatu ide untuk dipikirkan. Tapi komentar kakakku tentang film ini; 'nggak usah terlalu dipikirin film ini, ini cuma teori fiktif -yang mencoba menyaingi teori kecepatan cahaya'.

Best : Tidak ada adegan yang disturbing seperti kebanyakan film film barat lainnya
Worst : Alur cukup slow untuk kelas film action

My score : 7/10



Jumat, 14 November 2014

The Giver (2014)

 Sutradara : Phillip Noyce
Writer : Michael Mitnick, Robert B, Lois Lowry (book) |
 Durasi : 97 min |
Genre : Drama, Sci-Fi


Film adapted dari novel dengan judul yang sama ini, menjadi movie yang to be watch karena salah satu pemainnya adalah Taylor Swift (meskipun Tay keluar dikit banget, cuma 3 menitan). Selain itu genre dari novelnya juga interest, yakni young adult dengan tema dystopian.

Dunia yang digambarkan pada film ini adalah suatu komunitas yang terkendali dan teratur, tanpa ada perang, ketakutan, kesakitan dan perbedaan. Oleh sebab itu, pada komunitas ini tidak mengenal iri, dengki, persaingan. Semua orang memiliki perannya masing-masing. Jonas (Brenton Thwaites) terpilih menjadi Sang Penerima Kenangan oleh chief elder (Meryl Streep) untuk menerima latihan khusus. Disinilah ia bertemu dengan The Giver/Sang Pemberi (Jeff Bridges). Selama ini Sang Pemberi memiliki ingatan mengenai hal-hal yang tidak diingat oleh anggota komunitas tersebut. Seperti rasa sakit, dsb. Dan betapa takjub  Jonas menerima kebenaran sesungguhnya. Kejanggalan mulai terjadi di diri Jonas dan dirasakan oleh Ibu Jonas (Katie Holmes) dan Ayah Jonas (Alexander Skarsgard) akibat dari ingatan yang diberikan oleh Sang Pemberi. Teman-teman semasa kecil Jonas yaitu Fiona (Odeya Rush) dan Asher (Cameron Monaghan) berusaha membantu Jonas untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi. Di balik itu semua, pemimpin dengan julukan Chief Elder berusaha untuk menutup rapat-rapat apapun yang terjadi. Chief elder tidak menginginkan anggota komunitasnya mengetahui kenangan-kenangan yang sudah ditiadakan di komunitas tersebut. 

The Giver minim tantangan, tidak seperti rekannya Divergent atau The Hunger Games dengan “bahaya” yang jelas-jelas mengintai. Konflik cerita juga tidak sedalam rekan-rekannya, sehingga The Giver pun terasa dangkal. Tapi The Giver cukup memberi pesan moral yang dalam. Dari segi casting, Taylor Swift difilm pertamanya ini tidak terlalu kaku saat berperan sebagai Rosemary. Brenton Thwintes sebagai Jonas, yang juga pernah bermain di film Maleficent ini, membuat tokoh Jonas lumayan menjanjikan, tetapi lawan mainnya Odeya Rush masih terlalu kaku.

message : 
Dengan menonton film ini anda akan menemukan sebuah fakta baru disadari, yang worth it menurutku, membuat kita berpikir bahwa dunia kita yang sekarang ini, yang penuh emosi, perbedaan dan persaingan adalah dunia yang lebih baik. Sementara dunia yang teratur, tenteram, karena diatur oleh orang-orang tertentu, bukanlah dunia yang baik dan tidak enak dijalani. Teori konspirasi juga secara tidak langsung ada dalam cerita ini.

my score : 6/10