Tampilkan postingan dengan label science fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label science fiction. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2014

Lucy (2014)


Sutradara : Luc Besson |
Produser : Christohe Lambert, Luc Besson |
Writer : Luc Besson
Genre : Action, Sci-Fi
Durasi : 90 min



Lagi-lagi, alasan menonton film ini karena bergenre science fiction. Lucy termasuk salah satu film yang You Should Watch, tidak hanya karena bergenre science fiction, namun juga karena akting si tokoh utama, Lucy,  yang diperankan oleh Scarlett Johansson dapat dinikmati dengan sangat mulus. Efek visualisasi yang mengagumkan dan improvisasi ide yang lumayan gila. Didukung oleh aktor kenamaan Morgan Freeman, film ini pun menjadi film yang cukup menjajikan kesuksesannya.


Scarlett Johansson memulai cerita sebagai seorang perempuan biasa yang lugu (dan terkesan tidak tahu apa-apa), kemudian ia diculik oleh sekawanan mafia untuk menyelundupkan obat-obatan terlarang berdosis tinggi, yaitu CPH4. Di lain cerita, profesor Norman (Morgan Freeman) yang merupakan ilmuwan, sedang melakukan riset mengenai kemampuan otak manusia. Para mafia yang menggunakan tubuh Lucy sebagai media penelundupan obat, terkejut ketika mengetahui obat yang ditaman ditubuh Lucy ternyata bocor dan bereaksi dengan sistem DNA nya. Seketika itu, Lucy merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan manusia pada umumnya. Ia dapat mengingat memori memori terkecil disetiap kehidupannya. (pada scene inilah Scarlett Johansson terlihat sangat pintar dan mencengangkan). Kemudian, Lucy meminta bantuan kprofesor Norman untuk mengatasi 'masalah'nya.

Seperti halnya film bergenre sci fi lainnya, Lucy bukansekedar cerita biasa tentang kriminal dan balas dendam. Film ini menawarkan beberapa hal untuk dipikirkan. Pengetahuan yang disampaikan profesor Norman saat mengajar diperkuliahan, mempunyai filosofi dan pengetahuan yang dibagi tanpa membuat bosan para penonton. Mungkin banyak yang tidak puas dengan endingnya (saat keluar dari gedung bioskop, orang-orang dibelakangku pada ngomong 'film apanih kok geje ternyata' 'aku nggak paham, kok endingnya gini sih') namun hal itu yang paling masuk akal untuk mengakhiri cerita. Film ini tidak hanya melibatkan deretan cast berbakat, namun juga menawarkan sesuatu ide untuk dipikirkan. Tapi komentar kakakku tentang film ini; 'nggak usah terlalu dipikirin film ini, ini cuma teori fiktif -yang mencoba menyaingi teori kecepatan cahaya'.

Best : Tidak ada adegan yang disturbing seperti kebanyakan film film barat lainnya
Worst : Alur cukup slow untuk kelas film action

My score : 7/10



Jumat, 14 November 2014

The Giver (2014)

 Sutradara : Phillip Noyce
Writer : Michael Mitnick, Robert B, Lois Lowry (book) |
 Durasi : 97 min |
Genre : Drama, Sci-Fi


Film adapted dari novel dengan judul yang sama ini, menjadi movie yang to be watch karena salah satu pemainnya adalah Taylor Swift (meskipun Tay keluar dikit banget, cuma 3 menitan). Selain itu genre dari novelnya juga interest, yakni young adult dengan tema dystopian.

Dunia yang digambarkan pada film ini adalah suatu komunitas yang terkendali dan teratur, tanpa ada perang, ketakutan, kesakitan dan perbedaan. Oleh sebab itu, pada komunitas ini tidak mengenal iri, dengki, persaingan. Semua orang memiliki perannya masing-masing. Jonas (Brenton Thwaites) terpilih menjadi Sang Penerima Kenangan oleh chief elder (Meryl Streep) untuk menerima latihan khusus. Disinilah ia bertemu dengan The Giver/Sang Pemberi (Jeff Bridges). Selama ini Sang Pemberi memiliki ingatan mengenai hal-hal yang tidak diingat oleh anggota komunitas tersebut. Seperti rasa sakit, dsb. Dan betapa takjub  Jonas menerima kebenaran sesungguhnya. Kejanggalan mulai terjadi di diri Jonas dan dirasakan oleh Ibu Jonas (Katie Holmes) dan Ayah Jonas (Alexander Skarsgard) akibat dari ingatan yang diberikan oleh Sang Pemberi. Teman-teman semasa kecil Jonas yaitu Fiona (Odeya Rush) dan Asher (Cameron Monaghan) berusaha membantu Jonas untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi. Di balik itu semua, pemimpin dengan julukan Chief Elder berusaha untuk menutup rapat-rapat apapun yang terjadi. Chief elder tidak menginginkan anggota komunitasnya mengetahui kenangan-kenangan yang sudah ditiadakan di komunitas tersebut. 

The Giver minim tantangan, tidak seperti rekannya Divergent atau The Hunger Games dengan “bahaya” yang jelas-jelas mengintai. Konflik cerita juga tidak sedalam rekan-rekannya, sehingga The Giver pun terasa dangkal. Tapi The Giver cukup memberi pesan moral yang dalam. Dari segi casting, Taylor Swift difilm pertamanya ini tidak terlalu kaku saat berperan sebagai Rosemary. Brenton Thwintes sebagai Jonas, yang juga pernah bermain di film Maleficent ini, membuat tokoh Jonas lumayan menjanjikan, tetapi lawan mainnya Odeya Rush masih terlalu kaku.

message : 
Dengan menonton film ini anda akan menemukan sebuah fakta baru disadari, yang worth it menurutku, membuat kita berpikir bahwa dunia kita yang sekarang ini, yang penuh emosi, perbedaan dan persaingan adalah dunia yang lebih baik. Sementara dunia yang teratur, tenteram, karena diatur oleh orang-orang tertentu, bukanlah dunia yang baik dan tidak enak dijalani. Teori konspirasi juga secara tidak langsung ada dalam cerita ini.

my score : 6/10